Rabu, 29 Februari 2012

Tradisi Melayangan



Tradisi bermain layang layang atau melayangan memang sudah sangat kental di Bali, dimana pada masa lampau untuk mengisi waktu senggang selain bercengkrama kegiatan mereka juga diisi dengan melayangan.  Awal dari tradisi ini, lahir suatu tradisi saat seorang gembala bajak sawah yang mengisi waktu senggang untuk menaikkan layang-layang di tengah hamparan sawah yang luas. Dimana dikenal dengan istilah “Rare Angon” ( dalam cerita pewayangan merupakan putra dewa siwa yang berwujud anak kecil )

Saat ini ” Melayangan”  masih sering dilaksanakan oleh masyarakat bali, baik anak-anak sampai orang dewasa. Dari Bali bagian timur sampai bagian barat, bagian utara sampai bagian selatan. Kreativitas mereka tuangkan dalam berbagai wujud layang-layang baik yang bersifat tradisional maupun Layangan Kreasi Baru.
Untuk menunjang kreativitas masyarakat Bali dan promosi pariwisata Bali terutama dalam kegiatan melayangan, dalam interval waktu bulan Juli sampai bulan Agustus diadakan berbagai festival layang-layang baik yang bersifat lokal maupun internasional yaituaka Festival Layangan Internasional Padang Galak Sanur, Festival Layangan Pantai Mertasari Sanur dan terakhir di penghujung musim diadakan Festival Layangan Tanah Lot Tabanan. Dan diikuti oleh masyarakat Bali terutama oleh kelompok-kelompok Banjar yang tersebar di beberapa kabupaten yaitu Gianyar, Badung, Tabanan , dan Kodya Denpasar.Dalam festival layang layang terdapat beberapa kriteria penilaian diantaranya seni bentuknya, warnanya, suara guangan yang dihasilkan, indah gerakannya saat berada diudara dan yang terakhir ketahanan layang layang diudara.

Dibali kita mengenal beberapa jenis layangan tradisional , mungkin teman teman ada yang belum mengetahui atau lupa?.... ini saya bahas kembali

1  Layangan Bebean



Layangan ini sangat sering diikutsertakan dalam festival layang layang, karena keindahannya saat berada diudara bagaikan ikan yang berenang dan menari-nari dalam air dan juga memiliki suara guangan yang indah, sehingga banyak yang menyebut layangan ini dengan layangan bebean, di beberapa daerah di Bali layangan ini disebut "layangan Beb, layangan kepes,bahkan di desa saya yaitu Desa Mengwi layangan ini disebut layangan Potongan Badung

2. Layangan Janggan 


Layangan ini berbentuk naga dengan kepala yang terbuat dari kayu dan diukir sedemikian rupa sehingga menyerupai sosok naga dalam mitologi Bali, layangan ini dikenal sebagai layangan yang sangat banyak menghabiskan bahan, bayangkan untuk membuat satu buah layangan ini dengan ukuran lumayan besar, bisa menghabiskan sampai 20 meter kain parasut, waaaw..... sama halnya dengan layangan bebean, layangan ini juga memiliki guangan, di desa saya layangan ini lebih dikenal dengan nama "janggar janggaran.

3. Layangan Pecuk 


Layangan ini sangat simple, tetapi butuh keahlian khusus untuk menerbangkannya, karena layangan ini sangat lincah di udara dan bisa menyambar nyambar, dalam festival layang layang layangan ini di nilai berdasarkan keahlian orang yang menerbangkannya dan ketahanan layangan ini berada diudara.

4. Layangan kreasi





layangan kreasi merupakan layangan yang di buat berdasarkan ide sendiri, bentuk dan warnanya pun cukup menarik ada yang berbentuk bayi, orang naik motor, raksasa, bahkan ada layangan yang berbentuk kapal penisi. 




Selasa, 28 Februari 2012

Festival Ogoh Ogoh

Ogoh - ogoh merupakan salah satu bentuk seni patung dalam kebudayaan Bali, yang melambangkan perwujudan Bhuta kala (raksasa ). selain wujud raksasa, ogoh ogoh biasanya dibuat dalam bentuk Dewa Dewi, Naga, gajah, babi, bidadari , bahkan tokoh tokoh terkenal seperti pesepak bola CR7.., dan ada pula yang mengambil wujud teroris. itu semua tergantung dari kreatifitas si pembuatnya.... 

Ogoh ogoh biasanya terbuat dari anyaman bambu yang dibuat sedemikian rupa, adapula yang menggunakan kawat jaring, dan ada juga yang memakai steroform , ini tergantung dari sipembuat.

 pawai ogoh ogoh biasanya dilaksanakan satu hari sebelum hari raya nyepi hari tersebut dinamakan hari tawur kesanga atau hari pengerupukan, tujuannya adalah untuk mengusir para bhuta kala agar tidak menganggu dalam perayaan nyepi keesokan harinya, tak jarang pula pawai ogoh -ogoh diadakan lomba, sehingga akan meningkatkan semangat dan kreatifitas dalam membuat dan mendesign ogoh - ogoh itu sendiri.

Dalam perlombaan ogoh ogoh banyak aspek yang dinilai sehingga ogoh ogoh tersebut memenuhi kriteria untuk menjadi juara , diantaranya adalah
  1.  Bentuk Ogoh ogoh : Bentuk ogoh ogoh harus sesuai dengan bentuk asli dari jenis ogoh ogoh yang dibuat, selain itu tampilannya juga harus menarik dan terlihat hidup, ini membutuhkan keahlian khusus bagi para pembuatnya, sehingga tak jarang dalam pembuatan satu ogoh ogoh bisa menghabiskan dana sampai puluhan juta rupiah
  2. Tema dari ogoh ogoh : dalam setiap pementasan ogoh ogoh , tema atau cerita juga memegang peranan penting dalam menentukan bagus atau tidaknya pementasan tersebut, hal ini juga akan berpengaruh pada penilaian dewan juri, biasanya tema yang sering dipakai adalah tentang cerita Ramayana dan Maha Brata, tapi tak jarang pula ada yang mengambil tema korupsi, dan kejadian kejadian menarik lainnya.
  3. Kekompakan penari dan penabuh : Penari dan penabuh juga merupakan komponen penting dalam perlombaan ogoh - ogoh , indah tidaknya gerak tari dan kesesuaian dengan tabuh yang mengiringinya sangat menentukan dalam perlombaan, bahkan para penari sudah berlatih berbulan bulan sebelum perlombaan itu dimulai, begitu juga dengan para penabuh, mereka menciptakan seni tabuh yang baru, yang sangat enerjik dan bisa menarik hati dewan juri.
  4. Keutuhan ogoh ogoh : ini merupakan penilaian terakhir dalam perlombaan, dimana setelah ogoh ogoh dipentaskan dan diarak keliling desa tim juri akan kembali menilai apakah ogoh ogoh masih utuh atau sudah ada bagian yang patah. disinilah akan terlihat kekuatan konstruksi dari ogoh ogoh tersebut
Sebelum dilaksanakan pawai biasanya peserta lomba berkumpul terlebih dahulu di lapangan desa, setelah acara pembukaan dan penilaian awal  baru ogoh ogoh akan diarak. berikut saya tampilkan ogoh ogoh di desa saya saat perlombaan tahun 2011 lalu







 saya juga sudah upload video nya, tapi mohon maaf saya tidak mengupload foto dan video saat ogoh ogoh di tarikan, karena saya juga ikut menjadi penari, jadi tidak sempat mengambil gambar, ^_^



Created by : adit

Minggu, 26 Februari 2012

Kisah Mistis Calonarang


 Calonarang merupakan legenda yang sangat terkenal di Jawa pada masa Kerajaan Kediri dengan Rajanya Prabu Airlangga.Pertempuran Penguasa Ilmu Hitam dengan Penguasa Ilmu Putih di Setra Gandamayu
Dalam perang besar ini Raja Airlangga mengikutkan Pasukan Khusus Balayuda Kediri dalam menghadapi Calonarang dan pasukan leaknya.Para Pasukan Balayuda Kediri yang terpilih sebanyak dua ratus orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal. Semua pasukan ini akan mengawal dan membantu Empu Bharadah dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh Calonarang dan sisya - sisyanya.Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang, dan lain-lain. Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia. Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan.Ketika semua persiapan dianggap rampung, maka mereka pun istrirahat agar tenaga cukup kuat untuk penyerangan besok. Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, pasukan khusus atau pasukan pilihan dari Kediri yang disebut dengan Pasukan Balayuda dalam penyerangan tersebut mengawal Empu Bharadah. Sedangkan di depan sebagai pemimpin pasukan dipercayakan kepada Ki Kebo Wirang didampingi Ki Lembu Tal.


Tidak diceritakan perjalanan mereka, akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kediri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis. Di sana rombongan tersebut berhenti sejenak untuk beristirahat dalam persiapan untuk menuju ke Desa Girah. Semua pasukan kemudian menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah.Diceritakan kemudian Ibu Calonarang dirumahnya diiringi oleh para sisyanya semua melakukan penyucian diri dan mengayat atau memuja kehadapan Ida Betari mohon anugrah kesaktian. Mereka memusatkan pikiran dan memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara, dan idep atau pikiran, memuja Ida Betari bersarana sekar manca warna atau bunga warna-warni, dengan disertai asep menyan majegau atau wangi-wangian yang dibakar yang asapnya membubung ke angkasa, seolah-olah menyampaikan niat Ibu Calonarang kehadapan Ida Betari.Semua pekakas dan sarana pengleakan diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia, dan masing-masing menggunakannya. Di hadapan mereka juga digelar tetandingan jangkep atau sarana sesajen lengkap sesuai dengan keperluan. Calonarang kemudian mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Ia tampak berkomat-kamit mengucapkan mantra sakti memohon anugrah kesaktian dan kesidian kehadapan Hyang Maha Wisesa, dengan harapan Empu Bharadah dan Balayuda Kediri dapat dikalahkan.

Setelah beberapa saat melakukan konsentrasi, maka sampailah pada puncaknya. Raja pengiwa pun telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Kedigjayaan atau kewisesan telah turun dan masuk ke dalam jiwa raga. Calonarang kemudian bangkit dan berkata kepada semua sisyanya “para sisyaku semuanya, permohonan kita kehadapan Hyang Betari telah terkabulkan dan telah mencapai puncaknya. Kesaktian telah kita bangkitkan semuanya, dan telah merasuk ke dalam jiwa dan raga. Kini saatnya kita bertarung menghadapi Empu Bharadah dan Balayuda Kediri. Kita akan pertahankan harga diri kita. Mampuskan semua orang-orang Kediri yang datang ke sini menyerang. Demikian perintah Calonarang kepada seluruh sisyanya. Suaranya ketika itu telah berubah menjadi besar dan menggema, dan bukan merupakan suaranya yang biasa. Kemudian Calonarangpun tertawa ngakak, dan terdengar menakutkan.Semua sisya Calonarang telah nyuti rupa atau berubah wujud dan siap menyerang. Ada wujud bojog atau monyet yang siap menggigit, ada kambing siap nyenggot atau menanduk, ada sapi dan kuda yang siap ngajet atau menendang, ada kain kasa atau kain putih panjang yang siap menggulung dan membakar, ada bade atau menara pengusungan mayat yang siap membakar, ada babi bertaring panjang yang siap ngelumbih atau membanting dengan kepala, ada awak belig atau badan licin yang mukanya seperti umah tabuan atau sarang tawon. Ada pula api bergulung-gulung yang siap membakar siapa saja yang menghadang. Semua pasukan leak kemudian keluar dari rumah Calonarang dalam rupa bola api beterbangan, kemudian menuju ke Setra Ganda Mayu tempat perjanjian pertempuran dengan Empu Bharadah dan pasukan Balayuda Kediri.Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kediri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri. Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya.

Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Sambil juga Empu Bharadah mengucap mantra sakti Pasupati. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan, sesabukan, rerajahan kain, dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga. Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru. dalam ilmu Pengeleakan ada beberapa tingkatan seperti :

1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa ngeleak tersebut bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, babi betina (bangkung) dan lain – lain.

2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.

3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.


 Dalam setiap pementasan Calonarang , biasanya diawali dengan prosesi Maturuning ke Pura dan kuburan setempat agar pementasan berjalan dengan lancar, Baru - baru ini saya berkesempatan menyaksikan secara langsung pementasan calonarang, menurut keterangan penduduk setempat jika kita menonton calonarang , kita harus mengikutinya sampai selesai, karena jika kita pulang saat pertengahan acara konon kita akan diganggu oleh mahluk halus yang ada disekitar pertunjukan itu berlangsung.dalam acara tersebut saya sempat ngambil videonya............ yang mau nonton ,, nich saya tamplikan  .....

Calonarang Part 1

Calonarang Part 2

Calonarang Part 3


Sabtu, 25 Februari 2012

Mengenang Kembali Pelebon di Puri Ageng Mengwi



























Tentunya teman teman yang tinggal di sekitar Mengwi , Badung masih ingat dengan upacara pelebon di Puri Ageng Mengwi. nah saya tampilkan kembali foto - foto untuk mengenang upacara termegah tersebut.